Selasa, 03 Februari 2015

MAKALAH IPS - Kebudayaan Bengkulu



TUGAS MAKALAH IPS
Kebudayaan Bengkulu


Dian Nurul Qolbi
XII Kimia 2










SMK NEGERI 1 GUNUNG PUTRI
Jalan Barokah No.06 Wanaherang Gunung Putri Kab. Bogor 16965
Telp.(021) 8673310 e-mail : smkn1gnp@smkn1gnputri.sch.id
DAFTAR ISI
Cover………………………………………………………..
Peta Wilayah Bengkulu…………………………………..
Daftar Isi…………………………………………………………..
Bab I Pendahuluan
1.1  Sejarah……………………………………………….
1.2  Luas wilayah dan jumlah penduduk Bengkulu…………..
1.3  Kepala Daerah Brngkulu 2014…………………………………………
Bab II Isi
2.1  Sistem peralatan hidup………………..
2.2  Sistem kekerabatan……………………………….
2.3  Sistem mata pencaharian………………………………
2.4  Bahasa…………………..
2.5  Kesenian…………………..
Bab III
3.1  Kesimpulan………………………….
3.2  Saran…………………………
Daftar pustaka……………………………………………………………….











Bab I Pendahuluan
Bengkulu
Description: Tes Lake Lebong Regency, Bengkulu.jpg
Description: Bendera Bengkulu
Bendera
Description: Peta lokasi Bengkulu
Peta lokasi Bengkulu
Ibu kota
5º 40' - 2º 0' LS
100º 40' - 104º 0'
BT
Pemerintahan
 • Gubernur
Area
 • Total
19.788.70 km2(7,640.46 mil²)
Demografi
 • Suku bangsa
Rejang (60,36%)
Jawa (22,31%)
Serawai (17,87%)
Melayu Bengkulu (7,93%)
Lembak (4,95%)
Minangkabau (4,28%)
Sunda (3,01%)
Lain-lain (18,29%)
[1]
 • Agama
 • Bahasa
9
1
Pusako Bubung Limo
Keris Bengkulu
Situs web



1.1  Sejarah Bengkulu
Bengkulu (bahasa Belanda: Benkoelen atau Bengkulen, bahasa Inggris: Bencoolen, bahasa Malaysia: Bangkahulu, bahasa Rejang: Bekulew/Bekulaw), terletak di bagian barat daya pulau Sumatera adalah sebuah provinsi yang terletak di Pulau Sumatera, Indonesia. Di sebelah utara berbatasan dengan Sumatera Barat, di sebelah timur dengan Jambi dan Sumatera Selatan, sedangkan di sebelah selatan dengan Lampung.
Zaman prasejarah Bengkulu sudah dihuni manusia. Para pendatang dari Asia berbaur dengan manusia purba sekitar 4000 – 2000 SM. Sebagian masuk ke pedalaman, sementara yang lain menghuni daerah pantai. Ini merupakan cikal bakal suku bangsa Neo-Malayan. Bagian suku bangsa itu antara lain : suku Rejang (Rejang Lebong dan Bengkulu Selatan), Serawai / Pasemah (Bengkulu Selatan), Kaur (Bintuhan), Lembak di Kota Bengkulu dan sekitar Kepala Curup). Bengkulu (Kota Bengkulu) dan suku Katahun (Muko-muko).
·         Bengkulu Di Masa Awal Kedatangan Islam
Islam masuk ke Bengkulu pada abad XV (dari jawa). Perang Bengkulu-Aceh terjadi dua kali pada abad XVI dan XVII. Kesultanan-kesultanan di Bengkulu ketika itu: Selebar, Sungai Limau, dan Anak Sungai. Armada Aceh membuka serangan ke Selebar. Kapal induk Aceh menunggu di laut bersama induk pasukan, sedangkan kapal-kapal yang lebih kecil memasuki Sungai Serut. Pihak Selebar mampu menahan serangan itu karena menutup Sungai Serut dengan rintangan sehingga kapal induk Aceh tidak mampu memberi bantuan pada pasukannya yang lebih dahulu masuk.
·         Masuknya Kolonial Ke Bengkulu
1664 – VOC mendirikan perwakilan di Bengkulu, namun enam tahun kemudian Belanda menutup sementara kantornya dan dibuka kembali tahun 1824.
24 Juni 1685 Inggris masuk ke Bengkulu, namun mereka mendarat di Pulau Tikus ( 1 km dari kota pusat kota Bengkulu) dan disambut oleh agen niaganya. Mereka tidak masuk ke pelabuhan Selebar (daerah Pulau Baai) karena kapal Sultan Banten dan kapal Belanda sedang bersandar di sana.
16 Agustus 1695 Perjanjian Inggris – Bengkulu ditandatangani. Isinya monopoli lada, izin membangun loji, dan mengadili penduduk yang berbuat salah. Inggris terus memperluas wilayahnya sampai ke Muko-muko.
1692 Inggris mendirikan pos di Triamang, Lais, Ketahun, Ipuh, Bantal, Seblat (1700), selanjutnya Pada tahun 1701 mereka memperluas daerah ke arah Seluma, Manna, Kaur, dan Krui.
1718 Inggris membangun benteng Marlborough, sebelumnya sudah didirikan benteng York. Rakyat Bengkulu merupakan ancaman bagi Inggris. Di Bantal, Muko-muko, pemberontakan rakyat dipimpin Sultan Mansyur dan Sultan Sulaiman. Itu sebabnya Inggris merasa perlu membangun benteng tersebut. Pemberontakan itu (1719) membuat Inggris kawatir dan akhirnya meninggalkan Bengkulu.
1724 Inggris kembali lagi. Dengan perjanjian yang lebih lunak yang di tanda tangani pada 17 April 1724
15 Desember 1793 Captain Hamilton, pimpinan Angkatan Laut Inggris dibunuh rakyat Bengkulu. Dan pada 1807 rakyat Bengkulu kembali membunuh Residen Thomas Parr.
17 Maret 1824 Traktaat London (Perjanjian London) yang berisikan pertukaran daerah koloni antara Inggris dan Belanda. Tercantum, Bengkulu diserahkan kepada Belanda oleh Inggris dan Belanda menyerahkan Singapura kepada Inggris.
Dalam perjalanan sejarah Indonesia, Provinsi Bengkulu juga mempunyai peranan yang menonjol. Menurut catatan Prof. DR. Haji Abdullah Siddik (Sejarah Bengkulu : 1500-1990, Balai Pustaka, 1996), di era penjajahan, Bengkulu sudah menyita perhatian negara-negara kolonilis Barat, terutama karena hasil buminya yang melimpah. Tahun 1511 para pedagang Eropa terutama Inggris dan Belanda mulai ramai melakukan pelayaran menyusuri pantai Barat Sumatera dari Aceh, melalui Selatan Sunda lalu ke Banten.
Tahun 1685, dengan alasan perluasan kebun lada Inggris mulai menetap di Bengkulu. Saat itulah dimulai era tanam paksa lada terhadap rakyat. Tercatat, Inggirs bertahan selama 139 tahun di Bengkulu. Penderitaan rakyat Bengkulu terus berlanjut dengan peralihan kekuasaan dari Inggris kepada Belanda, tahun 1724, sebagai konsekwensi perjanjian mereka (Traktat London). Bahkan kekejaman penjajah memuncak saat Jepang menguasai Tanah Air.
Pendudukan tanpa rasa kemanusiaan itu tidak hanya melahirkan penderitaan bagi rakyat. Tapi juga membangkitkan perlawanan akibat telah diinjak-injaknya nilai luhur dan tradisi luhur masyarakat sekitar. Lebih seabad kemudian, aksi heroik menentang penjajahan masih terus bisa disaksikan. Sumbangsih rakyat Bengkulu terhadap kemerdekaan Indonesia tidak bisa begitu saja dihilangkan. Termasuk dalam periode mempertahankan kemerdekaan.

23 Februari 1942 Jepang masuk kota Curup dan terus ke kota Bengkulu dan banyak membantai rakyat.
·         Bengkulu Di Masa Setelah Kemerdekaan
Bengkulu yang ditetapkan sebagai provinsi pada 18 November 1968 itu, kini memiliki sepuluh kabupaten/kota, yakni Kota Bengkulu, Kabupaten Rejang Lebong, Kabupaten Lebong, Kabupaten Kepahiang, Kabupaten Bengkulu Utara, Kabupaten Mukomuko, Kabupaten Bengkulu Tengah, Kabupaten Bengkulu Selatan, Kabupaten Kaur dan Kabupaten Seluma.
Bengkulu juga menjadi salah satu mata rantai yang selalu dicatat oleh sejarah. Salah satu alasannya karena di bumi Rafflesia ini pula, Soekarno presiden pertama Republik Indonesia pernah menjalani pengasingan oleh pemerintah kolonial, selama empat tahun, 1938-1942. Seokarno kemudian menemukan cintanya di sini. Dia terpikat hati dengan salah seorang putri warga Muahammadiyah bernama Fatmawati. Putri yang dilahirkan di Desa Malabero, Kota Bengkulu, 5 Februari 1923 ini merupakan anak tunggal dari pasangan Hasan Din (Tokoh Muhammadiyah Bengkulu) dan Siti Chadijah.
Seokarno menikahi Fatmawati tahun 1943, ketika itu Fatmawati tepat menginjak usia 20 tahun. Pasangan itu dikaruniai lima anak, yakni Guntur Soekarnoputra, Megawati Soekarnoputri, Rachmawati Soekarnoputri, Sukmawati Soekarnoputri dan Guruh Soekarnoputra.
Ketika Seokarno menjadi Presiden Republik Indonesia, Ibu Fatmawati menjadi seoranh ibu negara. Bendera pusaka merah-putih yang dikibarkan saat Proklamasi 17 Agustus 1945 tak lain adalah jahitan tangan Bu Fatmawati.
Pada tanggal 18 November 1968, atas dasar UU No. 9/1967 Junkto Peraturan Pemerintah No. 20/1968, Keresidenan Bengkulu diresmikan menjadi salah satu Provinsi di Republik Indonesia yang ke-26 dengan Ali Amin sebagai Gubernur Bengkulu.

1.2  Luas wilayah dan jumlah penduduk Bengkulu

Luas wilayah bengkulu adalah 19.788.70 km2 (7,640.46 mil²). Jumlah penduduk Provinsi Bengkulu 2.010.172 jiwa.






1.3  Kepala daerah Bengkulu 2014
·         Gubernur :
Description: http://go.bengkuluprov.go.id/ver3/images/junaidigub.gif
Nama : H. Junaidi Hamsyah, S.Ag. M.Pd
Jabatan : Guru Mata Pelajaran
Pangkat/Gol.Ruang : Penata Tk.I (III/d)
TTL : Tebat Pacur, 04 Februari 1970
NIP : 197002042000121002
Pendidikan :
1. SD Negeri Tebat Pacur, lulus tahun 1983 Pendidikan
2. SMP Negeri Lubuk Durian lulus tahun 1986
3. PGA Negeri Kota Bengkulu lulus tahun 1989
4. IAIN Raden Fatah Bengkulu Fak. Tarbiyah lulus tahun 1996
5. Universitas Bengkulu FKIP. Prodi MMP lulus tahun 2009








·         Wakil Gubernur Provinsi Bengkulu
Description: http://go.bengkuluprov.go.id/ver3/images/PRESS%20ok.jpg
Nama Lengkap : Sultan Baktiar Najamudin
Tempat / Tanggal Lahir : Anggut Bengkulu Selatan, 11 mei 1979
Jenis Kelamin : Laki - Laki
Agama : Islam
Status Perkawinan : Belum Kawin
Alamat Tempat Tinggal : Jl. mahakam 3 no. 10 Rt.015 Rw. 003 Kelurahaan Jalan Gedang, Kecamatan Gading Cempaka Kota Bengkulu
Riwayat Pendidikan :
a.    SD Negeri Gedung Agung Pino
b.    SMP Negeri Ulu Talo
c.    SMA Negeri 1 dan 3 Manna
d.    s1 Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UI
e.    S2 Program Pasca Sarjana Universitas Prof. DR. Mustopo ( Beragama )
Riwayat Pekerjaan :
a.    Anggota DPD-RI Tahun 2009 - 2014
b.    Komisaris ASA KARYA GROUP
c.    Pimpinan Perusahaan Majalah EKBIS
d.    CEO Majalah Healt News



Bab II Isi
2.1   Sistem peralatan hidup
2.2   Sistem kekerabatan
2.3   Sistem mata pencaharian
Mata pencaharian utama penduduk Bengkulu adalah pertanian, dimana lebih dari 70 persen berkerja dalam bidang tersebut. Ini dapat dilihat dari distribusi Pendapatan Domestik Bruto Bengkulu yang didominasi sektor pertanian sebesar 42,79 %.
Pemerintah Provinsi sendiri sebenarnya telah menyadari bahwa salah satu hambatan dalam penanggulangan kemiskinan adalah keterbatasan akses masyarakat terhadap sumber daya alam/produksi. Tetapi yang terjadi di lapangan sebenarnya pengambil kebijakan semakin hari semakin mengurangi akses dan kontrol masyarakat terhadap sumber daya alam/produksi tersebut.
Satu hal yang selalu didengung-dengungkan oleh pemerintah, baik Provinsi maupun Kabupaten adalah bagaimana mendatangkan investor apapun yang sebagian besar bergerak dalam bidang eksploitasi sumber daya alam, misalnya HGU untuk perkebunan besar, Kontrak Pertambangan, Izin eksploitasi kayu dan lainnya. Perilaku ini sebenarnya semakin hari semakin menyingkirkan masyarakat adat dari tanahnya sendiri karena izin-izin tersebut telah membuat masyarakat adat kehilangan akses terhadap lahan pertaniannya.
Investasi-investasi tersebut memang mendatangkan lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar, tetapi sebenarnya tidak dapat menjawab kebutuhan sehari-hari mereka. Pendapatan dari bekerja di perkebunan atau pertambangan jauh lebih kecil bila dibandingkan mereka dapat mengelola lahan secara mandiri. Investasi-investasi tersebut sebenarnya yang menjadi penyebab utama pemiskinan masyarakat terutama masyarakat adat di Bengkulu. Pola penanggulangan kemiskinan selama ini yang dilaksanakan oleh pemerintah tidak memperlihatkan hasil nyata walaupun telah mengeluarkan biaya sangat besar, karena tidak melihat akar masalah kemiskinan itu sendiri.
Meskipun begitu masyarakat tetap dapat memanfaatkan lokasi-lokasi pariwisata mereka untuk mendapatkan wisatawan agar berkunjung ke bengkulu, hal inilah yang menyebabkan masyarakat bengkulu bersifat ramah, baik, blak-blakan, dan sebagai informan meskipun watak keras mereka sering muncul dalam kondisi tertentu.

2.4   Bahasa
Terdapat empat bahasa daerah yang digunakan oleh masyarakat Bengkulu, yakni : Bahasa Melayu, Bahasa Rejang, Bahasa Pekal, Bahasa Lembak. Penduduk Provinsi Bengkulu berasal dari tiga rumpun suku besar terdiri dari Suku Rejang, Suku Serawai, Suku Melayu.
Suku Rejang adalah suku mayoritas di Bengkulu memiliki perbedaan yang mencolok dalam dialek penuturan bahasa. Dialek Rejang Kepahiang memiliki perbedaan dengan dialek Rejang di Kabupaten Rejang Lebong yang dikenal dialek Rejang Curup, dialek Rejang Bengkulu Utara (identik dengan dialek Rejang Curup), dan dialek Rejang yang penduduknya di wilayah kabupaten Lebong. Secara kenyataan yang ada, dialek dominan Rejang terdiri tiga macam. Dialek tersebut adalah sebagai berikut:
§    Dialek Rejang Kepahiang
§    Dialek Rejang Curup
§    Dialek Rejang Lebong
Dari tiga pengelompokan dialek Rejang tersebut, saat ini Rejang terbagi menjadi Rejang Kepahiang, Rejang Curup, dan Rejang Lebong. Namun, meskipun dialek dari ketiga bahasa Rejang tersebut relatif berbeda, tapi setiap penutur asli bahasa Rejang dapat memahami perbedaan kosakata pada saat komunikasi berlangsung. Karena perbedaan tersebut seperti perbedaan dialek pada bahasa Inggris Amerika, bahasa Inggris Britania, dan bahasa Inggris Australia. Secara filosofis, perbedaan dialek bahasa Rejang terjadi karena faktor jarak, faktor sosial, dan faktor psikologis dari suku Rejang itu sendiri. Hal ini juga membuktikan bahwa tingkat persatuan dan kesatuan suku Rejang masih sangat rendah jika dibandingkan dengan suku bangsa terdekat lainnya suku Lembaksuku Serawai, dan suku Pasemah.

2.5   Kesenian
Bengkulu memiliki kerajinan tradisional batik besurek, yakni kain batik yang dihiasi huruf-huruf Arab gundul dan diakui oleh pemerintah Republik Indonesia sebagi salah satu bagian warisan budaya Republik Indonesia serta turut memperkaya khazanah budaya di Indonesia. Kebudayaan Bengkulu memiliki beberapa ciri berbeda karena dipengaruhi oleh suku-suku berbeda yakni kebudayaan Bengkulu Selatan/suku Serawai, kebudayaan Rejang dan kebudayaan pesisir. Budaya tabot merupakan satu kultur unik yang memadukan tradisi lokal dengan Islam Syiah secara kultural.
·         Tari tradisional
Tari-tarian tradisional dari Bengkulu antara lain:
ü Tari Tombak Kerbau
ü Tari Putri Gading Cempaka
ü Tari Pukek
ü Tari Andun
ü Tari Kejei
ü Tari Penyambutan
ü Tari Bidadari Menimang Anak
ü Tari Topeng


·         Seni musik
Seni musiknya adalah:
ü Geritan, yaitu cerita sambil berlagu.
ü Serambeak, yang berupa patatah-petitih.
ü Andei-andei, yaitu seni sastra yang berupa nasihat.
ü Sambei, yaitu seni vokal khas suku Rejang,biasanya untuk pesta     perkawinan





















Bab III Kesimpulan dan Saran
3.1  Kesimpulan………………………….
3.2  Saran…………………………
DAFTAR PUSTAKA

1 komentar: